KISAH MAHASISWA


Long Life Learner

Necrophilia

Kisah sebagai seorang mahasiswa dimulai ketika masa OSPEK. Apa kepanjangan OSPEK, saya tidak terlalu peduli. Semacam MOS (Masa Orientasi Sekolah) ketika jaman masuk SMP atau SMA. Dimana mahasiswa yang baru masuk universitas mendapatkan segambreng kegiatan, tugas, dan perploncoan. Berapa lama OSPEK terjadi? 3 hari? 1 minggu? Jawabannya: BIG NO. Paling cepat, 1 bulan. Seingat saya begitu.

Seperti kebanyakan masa orientasi, pasti dibagi menjadi beberapa kelompok. Dengan berbagai nama dan beragam anggota. Kebetulan, sewaktu OSPEK, saya tergabung dalam kelompok yang bernama aneh: NECROPHILIA. Apa yang ada di benakmu ketika mendengar atau membaca kata itu? Bakteri? Virus? Penyakit? Kalau saya, sih, jawaban yang keluar, itu nama bakteri. Temannya Anabaena Azolaphynata. See? Namanya aja memper-memper gitu.

Tapi, itu bukan nama bakteri. Itu nama keren dari sebuah penyakit psikologis. Namanya emang keren, tapi itu PENYAKIT! Itu yang nggak bikin keren lagi. Tahu itu penyakit apa? Nggak tahu? Cari tahu sendiri aja, deh. Lah, wong saya pas jaman OSPEK disuruh cari tahu sendiri. Hehehe... .

Dalam sebuah kelompok ketika OSPEK, ada satu orang kakak angkatan yang bertugas sebagai "pengawas" kelompok. Sebutan kerennya sih FASTOR, singkatan dari FASILITATOR (ini beneran ngasal aja nyebutnya). Ya, semacam memberi petuah-petuah apa saja yang harus dilakukan agar supaya nggak dikasih hukuman sama kakak-kakak KOMDIS (Komisi Disiplin), panitia OSPEK dengan pangkat tertinggi setelah ketua. Itu KOMDIS versi saya. Dengan wajah angker, jalan dikangkang-kangkangin, suara diberat-beratin, dan mimik muka yang diserem-seremin, para KOMDIS selalu siap sedia mencari-cari kesalahan sekecil apapun untuk bisa marah-marahin para MABA (Mahasiswa Baru).

Sebagai mahasiswa bau kencur, siapa sih, yang nggak keu-keu sama kelakuan para KOMDIS ini? Saya? Nggak terlalu, sih. Secara, bapak saya jauh lebih galak daripada kakak-kakak KOMDIS. Hahahaha... . Walhasil, saya beberapa kali kena teguran KOMDIS, baik secara langsung maupun tidak langsing (gendut, dong?).

Well, pengalaman OSPEK yang paling menyenangkan, yaitu..., ketika..., ketikaa..., ketikaaa..., ketikaaaa.......

NGGAK ADA!

Hahahaha... . Honestly, I did not enjoy that day. Masa-masa OSPEK itu hal yang paling tidak saya sukai. Karena apa? Karena saya memang tidak ada niatan untuk masuk kuliah! Jadi, masa-masa awal kuliah itu, masa-masa  suram saya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Nggak ada niatan tulus dari lubuk hati yang terdalam melewati masa-masa OSPEK.

Datang-ikutin kegiatan-absen-makan-pulang. Kalau lagi banyak tugas yang diberikan kakak panitia bisa nginep di rumah temen dan besok paginya, nggak pake acara mandi-gosok gigi-ganti baju, balik lagi OSPEK ke kampus. Kalaupun pulang, nyampe rumah sudah dini hari. Dan pagi2 buta, kudu balik lagi ke kampus buat OSPEK. HELL!!! Gue masuk kuliah bukan buat jadi bahan perploncoan yang semena-mena mameennn....!!!

That was awful moment. Disuruh ngulangin lagi, jelas saya lebih memilih nggak masuk OSPEK. Cape dee... .

Bagi saya, pengalaman OSPEK itu cuma suatu hal yang biasa-biasa aja. Nothing special. Kecuali, satu-dua hal. Semacam, ketua kelompok saya yang nggak bisa saya kasih respect sama sekali dan adegan katakan cinta di tempat parkir. Itu, KLB (Kejadian Luar Binasa) selama OSPEK di dalam kelompok saya. Dan satu lagi, adegan dimana para anggota pria di kelompok Necrophilia adu jotos di suatu sore di samping perpustakaan kampus.

Hemm... . That's a drama. Saya simpan dulu ceritanya. Kapan hari nanti saya sambung lagi.

Salam Civitas Akademika!

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :